Dianggap permalukan Indonesia, begini sisi gelap kehidupan Ratna Sari Dewi di negara lain selepas Soekarno meninggal

Pasca meninggalnya Soekarno, Ratna Sari Dewi memilih untuk tak tinggal di Indonesia, ia menetap di beberapa negara seperti Perancis, Swiss, Amerika Serikat, dan Jepang.
Selama tinggal di luar negeri, Ratna Sari Dewi terlibat beberapa tindakan tak terduga mulai dari kekerasan hingga hal lainnya yang tak biasa dilakukan mantan ibu negara.
Bahkan hal-hal tersebut disebut sebagai tindakan yang tak patut dan telah mempermalukan Indonesia. Apa saja? Simak ulasan berikut.
Dipenjara
Dilansir dari kanal YouTube Imban, pada tahun 1992, ketika ia sedang berada di Amerika Serikat, ibu satu anak ini diketahui terlibat dalam sebuah perkelahian.
Diketahui ia membuat kegaduhan dengan seorang wanita yang tak lain putri mantan wakil Presiden Filipina kala itu
Bulan Januari menjadi saksi ketika Ratna Sari Dewi menghadiri sebuah pesta yang digelar di Aspen, Colorado, Amerika Serikat. Saat itu, putri Presiden Filipina bernama Maria Octavia Osmena turut hadir.
Mereka terlibat dalam sebuah adu mulut yang berujung dengan melayangnya gelas wine pada Osmena. Ia pun mendapat total 37 jahitan di sekitar wajah dan kepalanya.
Pemotretan

Pada tahun 1998, wanita yang akrab disapa Dewi Soekarno ini kembali mengagetkan publik ketika foto-fotonya di sebuah buku Jepang tersebar. Diketahui jika ia nekat berpose dengan pakaian minim dan memamerkan tato di bagian pudaknya
Buku tersebut bahkan dilarang masuk ke Indonesia karena dianggap telah mempermalukan bangsa mengingat notabene Dewi Soekarno adalah mantan ibu negara dari Presiden pertama RI
Diwawancari sambil berenang
Dalam wawancara bersama media Perancis, ibu Kartika Sari Dewi ini juga pernah menghebohkan publik. Kala itu ia meladeni wawancara sembari berenang yang membuatnya menjadi perhatian.
Pada saat itu ia ditanya tentang desas-desus yang menyebut jika ia telah dibelikan sebuah rumah mewah di Eropa oleh Bung Karno.
Ratna Sari Dewi pun menyangkal hal tersebut. Dibuktikan dengan sikapnya yang memilih menetap di Jepang pada 2008 lalu dan menekuni serangkaian bisnis. Ia pun masih tetap eksis di dunia pertelevisian Jepang hingga kini.***